07 Juni 2026
Admin
Karya Tulis
SAHUR DAN BUKA PUASA SEBAGAI MEDIA KEBERSAMAAN
SAHUR DAN BUKA PUASA SEBAGAI MEDIA KEBERSAMAAN
Antara Spiritualitas Kolektif dan Budaya Seremonial
By Itang Komar
Sahur dan buka puasa merupakan dua momentum penting dalam Ramadan. Secara fiqh, sahur dianjurkan karena mengandung keberkahan, sedangkan berbuka disegerakan sebagai bentuk ketaatan pada tuntunan Nabi. Di balik dimensi ritual itu, keduanya memiliki nilai sosial signifikan: membangun kebersamaan dan solidaritas. Dalam masyarakat modern yang cenderung individualistik, momen ini berpotensi merekonstruksi relasi sosial. Pertanyaannya, apakah kebersamaan tersebut masih autentik atau telah tereduksi menjadi seremonial dan konsumtif?
Secara normatif, sahur dan buka puasa menciptakan ritme kolektif. Umat Islam bangun, menahan lapar, dan berbuka dalam keserempakan waktu yang sama. Solidaritas simbolik ini jarang ditemukan dalam ibadah lain. Dalam perspektif maqāṣid al-syarī‘ah, kebersamaan tersebut memperkuat harmoni sosial dan perlindungan jiwa. Buka puasa bersama menjadi ruang silaturahmi lintas keluarga, komunitas, dan institusi; ia membuka dialog dan memperkecil jarak sosial. Pada tataran ideal, kebersamaan ini menumbuhkan empati, terutama ketika disertai berbagi kepada fakir miskin.
Namun realitas kontemporer menghadirkan paradoks. Sahur dan buka puasa kerap terjebak dalam konsumsi berlebihan. Restoran penuh, hidangan semakin mewah, dan kebersamaan diukur dari kelimpahan sajian. Momentum spiritual berubah menjadi ajang eksistensi sosial. Kebersamaan bergeser dari nilai kesederhanaan menuju simbol kemewahan. Jika hanya melahirkan euforia sesaat tanpa transformasi etis, substansi sosialnya memudar.
Fenomena buka puasa bersama yang seremonial di berbagai lembaga juga patut dikritisi. Ia sering menjadi panggung citra sosial dan institusional. Kebersamaan dipertontonkan, tetapi belum tentu berlanjut pada komitmen keadilan sosial. Esensi Ramadan seharusnya melampaui simbol menuju solidaritas nyata.
Sahur dan buka puasa memiliki potensi besar sebagai media kebersamaan yang memperkuat solidaritas. Namun tanpa kesadaran kritis, ia mudah terjebak dalam konsumtivisme dan seremonialisme. Mengembalikan maknanya berarti menjadikannya ruang refleksi, kesederhanaan, dan komitmen sosial yang berkelanjutan.
Tasikmalaya, 24 Februari 2026.
Berita Terbaru
PADA AKHIRNYA, KITA AKAN MENINGGALKAN SEGALANYA
03 Nov 2026
Kampus sebagai Pesantren Peradaban
21 Oct 2026
WISUDA UNITAS KE-48 DALAM REFLEKSI RABIUL AKHIR
05 Oct 2026
MATRIKULASI S2 PAI UNITAS
30 Sep 2026
Berilmu, Berwahyu, Berperadaban: Menyiapkan Generasi Unggul UNITAS di Era Modern
17 Sep 2026