07 Juni 2026
Admin
Karya Tulis
MENJAGA LISAN DI BULAN PUASA
MENJAGA LISAN DI BULAN PUASA
Antara Etika Spiritual dan Krisis Moral di Ruang Publik
By Itang Komar
Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perilaku destruktif, termasuk menjaga lisan. Nabi menegaskan bahwa siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya. Pesan ini menunjukkan bahwa kualitas puasa diukur bukan hanya secara fiqh (sah atau batal), tetapi secara etis. Dalam kehidupan modern, menjaga lisan menjadi tantangan kompleks, terutama di era digital.
Secara normatif, menjaga lisan merupakan bagian dari tujuan puasa, yaitu pembentukan takwa (QS. al-Baqarah: 183). Dalam perspektif maqāṣid al-syarī‘ah, lisan yang terjaga melindungi kehormatan (ḥifẓ al-‘irḍ) dan harmoni sosial. Ghibah, fitnah, dan dusta bukan sekadar pelanggaran moral, tetapi ancaman bagi tatanan sosial. Puasa melatih pengendalian diri. Jika seseorang mampu menahan kebutuhan biologis, ia semestinya mampu menahan kata-kata yang melukai. Di sinilah puasa menjadi pendidikan karakter yang radikal—menguji integritas di ruang privat dan publik.
Ironisnya, Ramadan kerap diwarnai eskalasi perdebatan, ujaran kebencian, dan penyebaran hoaks di media sosial. Jari menjadi perpanjangan lisan. Komentar kasar, provokasi politik, dan eksploitasi isu agama marak beredar. Secara fiqh puasa tetap sah, tetapi secara substansi ruhnya tergerus. Terjadi paradoks: ritual meningkat, etika komunikasi menurun. Menjaga lisan dipandang sekunder, padahal kerusakan sosial sering bermula dari kata-kata.
Di ruang publik, retorika religius menguat, namun tidak selalu diiringi kesantunan dan kejujuran. Bahasa agama kadang dipakai untuk menyerang dan mempolarisasi. Lisan yang semestinya menjadi sarana dakwah berubah menjadi alat dominasi. Jika puasa tidak membentuk etika komunikasi, ada yang keliru dalam pemaknaannya.
Menjaga lisan adalah inti pendidikan spiritual Ramadan. Tanpa etika komunikasi, puasa berisiko menjadi ritual sah secara hukum, tetapi rapuh secara moral. Dari lisan yang terjaga lahir masyarakat yang beradab.
Tasikmalaya, 25 Februari 2026.
Berita Terbaru
Berilmu, Berwahyu, Berperadaban: Menyiapkan Generasi Unggul UNITAS di Era Modern
17 Sep 2026
Yudisium Mahasiswa Magister (S2) PAI Pascasarjana UNITAS Angkatan ke-4 Tahun 2026
27 Aug 2026
NASKAH SOAL UJIAN TES KOMPUTER
26 Aug 2026
Soal Ujian Komputer Calon Perangkat Desa Kertamukti Kec. Ciawi Kab. Tasikmalaya
26 Aug 2026
Mahasiswa KKN UNITAS Tanam 80 Pohon Alpukat di Desa Dawagung, Rajapolah
22 Aug 2026